4 Kaidah Mengetahui Perkara Tauhid dan Syirik

Qawaid Al-Arba

1. Bahwasanya orang-orang musyrik jahiliyah yang Rasulullah صلى الله عليه وسلم perangi mengakui (*1) bahwa Allah adalah Dzat Yang Mencipta dan Yang Mengatur segala sesuatu. Begitu juga iblis (*2) dan fir’aun (*3). Namun keyakinan ini tidaklah cukup memasukkan seseorang kepada Islam.

2. Bahwasanya orang musyrik beralasan bahwa mereka tidak menyembah sesembahan dan tidak menghadapkan wajah-wajah mereka pada sesembahan itu, kecuali hanya untuk mendekatkan diri kepada Allah (*4) atau meminta syafaat (*5)(*6).
Perilaku seperti inilah yang saat ini dilakukan orang-orang yang menyembah kuburan atau yang sepertinya. Mereka menjadikan perantara dalam beribadah kepada Allah.

3. Bahwasanya Rasulullah صلى الله عليه وسلم diutus kepada manusia yang berbeda-beda dalam peribadatannya. Ada yang beribadah kepada malaikat, nabi (*7), orang sholeh (*8), batu, pohon, matahari, atau bulan (*9). Semuanya tidak dibeda-bedakan dan diperangi oleh Rasulullah.
Di antara kebathilan kesyirikan adalah pelakunya berbeda-beda di dalam peribadatannya, mereka tidak bersatu di atas satu aturan karena mereka tidak berjalan di atas al-haq. Hanya saja mereka berjalan di atas hawa nafsu dan di atas seruan orang-orang yang menyesatkan.

4. Kesyirikan ummat zaman ini lebih besar daripada kesyirikan ummat yang Rasulullah صلى الله عليه وسلم atau nabi sebelum beliau diutus.
Dahulu kesyirikan dilakukan pada saat lapang, namun ketika musibah datang, mereka memurnikan ibadah hanya kepada Allah semata (*10). Zaman ini lihatlah ketika musibah gunung mau meletus, berbondong-bondong orang memberi sesajen kepada ‘penjaga gunung’.
Dahulu orang musyrik menyembah orang sholeh: malaikat, nabi, wali, atau benda-benda yang selalu taat pada Allah (matahari, bulan, batu). Zaman ini pelaku maksiat seperti dukun berwujud kyai atau orang-orang yang tidak shalat karena mengaku mencapai tahap ‘hakikat’ (*11); disembah pula.
Dahulu orang musyrik meyakini bahwa Allah Yang Mencipta dan Mengatur segala urusan semesta alam. Zaman ini orang-orang atheis sama sekali tidak mempercayai adanya Rabb semesta alam. Bahkan ada yang meyakini bahwa Allah bersatu dalam makhluk seperti keyakinan bathil ‘wihdatul wujud’. Tidak heran kalau ada orang Islam yang berucap ‘anjinghu akbar’. Na’udzubillahi min dzalik.

(*1) Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezki kepadamu dari langit dan bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan penglihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan?” Maka mereka akan menjawab: “Allah.” Maka katakanlah “Mangapa kamu tidak bertakwa kepada-Nya)?” (Yunus: 31), atau di Az-Zukhruf: 9, 87; Al-Mu’minun: 86-89; Az-Zumar: 38, Luqman: 25; Al ‘Ankabuut: 61, 63.
(*2) Iblis berkata: “Ya Rabb-ku, beri tangguhlah aku sampai hari mereka dibangkitkan.” (Shaad: 79), atau di Al Hijr: 39-40.
(*3) Musa mengatakan, “Sesungguhnya kamu (Fir’aum) telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Rabb Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata. Sesungguhnya aku memiliki persangkaan kuat kamu, hai Fir’aun merupakan seorang yang akan binasa. (Al Isro’: 102), atau di An-Naml: 14.
(*4) Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). Dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): “Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya.” Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. (Az-Zumar 3)
(*5) Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata: “Mereka itu adalah pemberi syafa’at kepada kami di sisi Allah.” Katakanlah: “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) dibumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dan apa yang mereka mempersekutukan (itu). (Yunus: 18)
(*6) Syafaat:
– Seseorang bisa memberikan syafaat hanya dengan seizin Allah (Al-Baqarah: 255)
– Seseorang bisa diberikan syafaat hanya dengan seizin Allah (Al Anbiyaa’: 28)
– Hanya orang yang ahli tauhid yang mendapatkan syafaat, orang musyrik tidak akan mendapatkannya (Ghafir: 18)
(*7) dan (tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai rabb. Apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?.” (Ali ‘Imran: 80)
(*8) Orang-orang yang mereka seru itu, mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka siapa di antara mereka yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya; sesungguhnya azab Rabb-mu adalah suatu yang (harus) ditakuti. (Al-Isra: 57)
(*9) Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, rabb-rabb yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?
Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
(Yusuf: 39-40)
(*10) Dan apabila kamu ditimpa bahaya di lautan, niscaya hilanglah siapa yang kamu seru kecuali Dia, Maka tatkala Dia menyelamatkan kamu ke daratan, kamu berpaling. Dan manusia itu adalah selalu tidak berterima kasih. (Al-Isra: 67), atau di Luqman: 32.
(*11) ‘Hakikat’: aliran sesat yang pelakunya menganggap dirinya tidak terkena beban syariat atau halal-haram; hal ini berlakunya pada orang awam.

Diringkas dari kitab Qawaid Al-Arba’ – Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah, dengan sedikit penambahan.